Sementara itu, Cilacap dan Jepara masing-masing menerima 20 ribu liter. Purworejo turut menerima bantuan sebanyak 5 ribu liter.
Dari sisi wilayah terdampak, Purbalingga dan Klaten masing-masing mencatat tiga desa mengalami kekeringan. Banjarnegara mencatat dua desa, sedangkan Jepara, Purworejo, dan Cilacap masing-masing satu desa.
Selain penyaluran air bersih, sejumlah daerah juga menetapkan status siaga darurat kekeringan. Hingga akhir Juni 2026, delapan daerah telah menetapkan status tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedelapan daerah tersebut yakni Kabupaten Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, serta Kota Tegal dan Kota Salatiga. Penetapan status ini menjadi langkah lanjutan menghadapi ancaman kekeringan yang meluas.
Meski sempat muncul kekhawatiran terkait kenaikan harga bahan bakar minyak, Bergas memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Kenaikan BBM tersebut berpotensi memengaruhi biaya operasional distribusi air bersih.
Sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, pemerintah daerah diminta memaksimalkan anggaran tersedia pada Juni-Juli. Sementara itu, kebutuhan tambahan akibat kenaikan biaya operasional akan teratasi melalui perubahan anggaran.
Selain dropping air bersih, Pemprov Jateng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) turut memperkuat ketahanan air. Mereka membangun sumur dalam dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di berbagai daerah.
<!–nextpage->
Karenanya, BPBD mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air. Warga juga diminta segera melapor melalui RT/RW, pemerintah desa, kecamatan, hingga BPBD setempat apabila mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kami mengimbau warga untuk mempersiapkan diri dengan menghemat dan menabung air. Ini langkah penting agar kita bisa bertahan menghadapi kondisi kekeringan ini,” tutup Bergas.
Penulis : A. Nandar
Editor : A. Nandar
Sumber Berita: Humas Pemprov Jateng
Halaman : 1 2











