SEMARANG, DiengPost.com – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sarif Abdillah, memberikan pidato yang membakar semangat ratusan insan pers. Hasilnya, beliau menekankan pentingnya peran strategis media dalam pembukaan Jateng Media Summit 2026 di Khas Hotel Semarang pada Kamis hari ini.
Sarif memandang media sebagai pilar esensial dalam menjaga stabilitas demokrasi serta merancang masa depan bangsa. Selain itu, beliau mengingatkan para jurnalis mengenai tanggung jawab besar dalam merawat nalar publik. Media memiliki andil besar dalam menentukan arah perkembangan daerah ke depan.
Dalam pidatonya, Sarif mengutip pemikiran sosiolog Islam terkemuka, Ibnu Khaldun, mengenai runtuhnya sebuah peradaban besar. Kemunduran tersebut seringkali bermula dari hilangnya narasi serta tulisan yang berkualitas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ia memandang insan pers sebagai penjaga benteng pengetahuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apa yang Bapak dan Ibu tulis hari ini akan menjadi pondasi narasi sejarah. Tulisan tersebut menjadi pusaka yang menjaga peradaban Republik ini di masa depan,” ujar Sarif di hadapan para pimpinan media. Lebih lanjut, beliau meminta para pelaku industri pers tidak abai terhadap kualitas produk jurnalistik mereka.
Tantangan Era Digital dan Sinergi Pemerintah
Selanjutnya, Sarif mendorong pengelola media untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri di tengah disrupsi teknologi. Menurutnya, tantangan zaman menuntut mentalitas petarung yang tangguh serta kreativitas yang tiada henti. Bahkan, pelaku media tidak boleh takut melakukan terobosan baru demi kemandirian bisnis.
Ternyata, formula bertaruh di era modern mewajibkan perusahaan pers lokal memiliki strategi konvergensi yang matang. Di samping itu, DPRD Jawa Tengah menyatakan kesiapan untuk bersinergi dan berjalan beriringan bersama media. Sinergi ini bertujuan untuk mewujudkan keterbukaan informasi publik yang sehat.
Politisi tersebut menilai pers yang sehat dan merdeka akan menjadi pendorong utama bagi peningkatan literasi masyarakat. Sementara itu, Sarif mencairkan suasana ruan acara dengan melantunkan sebuah pantun jenaka pada akhir sesi pidatonya. Langkah ini mendapat sambutan berupa tepuk tangan riuh dari para hadirin.
Penulis : A. Nandar
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 Selanjutnya

















