LAMPUNG TIMUR, DiengPost.com — Ribuan warga dari desa-desa penyangga hutan di Kecamatan Way Jepara dan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Selasa (13/1/2026). Aksi ini dipicu oleh konflik berkepanjangan antara manusia dan gajah liar yang kembali menelan korban jiwa.
Korban terbaru adalah Darusman, Kepala Desa Braja Asri, yang meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit setelah berupaya bersama warga menghalau kawanan gajah liar yang masuk ke kawasan pertanian dan permukiman pada Rabu (31/12/2025). Peristiwa ini memicu kemarahan warga yang tergabung dalam ‘Aliansi Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas’.
Diperkirakan lebih dari seribu orang mengikuti aksi yang diawali dengan long march menuju Balai TNWK sambil membawa poster dan spanduk berisi tuntutan. Salah satu spanduk bertuliskan, ‘Jika TNWK tidak mampu menjalankan makna konservasi, pulangkan saja gajah ke habitat asalnya’.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam orasinya, Khairudin, perwakilan massa aksi, menilai bahwa konflik antara manusia dan gajah selama ini terkesan dibiarkan tanpa penanganan serius.
“Kepala Desa masyarakat Braja Asri mati diinjak-injak oleh gajah. Kalau kemarin kami diam, hari ini tidak lagi,” tegasnya.
Khairudin juga menyebut bahwa konflik gajah tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan ladang dan hilangnya mata pencaharian warga. Ia menilai kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi nyata dari pengelola kawasan konservasi.
Massa menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain penghentian permanen konflik gajah-manusia, perlindungan terhadap lahan pertanian warga, serta kejelasan tanggung jawab dari pihak TNWK.
Penulis : Afandi
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 Selanjutnya















