SEMARANG, DiengPost.com — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai memetakan dampak pascabencana banjir yang masih berlangsung di sejumlah wilayah. Fokus utama diarahkan pada kerusakan infrastruktur di jalur Pantura, yang menjadi urat nadi perekonomian regional dan nasional.
“Banjir di Jawa Tengah memang belum selesai semuanya. Untuk penanganan pascabencana, kami baru mulai menghitung dan memetakan,” ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, usai menerima kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI di Kantor Gubernur Jateng, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, jalur utama Pantura dari Rembang hingga Semarang mengalami kerusakan signifikan, baik di jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten, akibat tingginya intensitas kendaraan saat banjir. Pemprov Jateng juga tengah menyiapkan pengajuan anggaran untuk pembangunan dan peninggian tanggul sebagai langkah pencegahan jangka panjang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di wilayah Pati, banjir disebabkan oleh limpasan debit air yang tinggi, sehingga diperlukan normalisasi sungai dan peninggian tanggul. Tantangan semakin kompleks karena banjir berbarengan dengan musim rob, yang menyulitkan proses pembuangan air.
Di Kota Pekalongan, pembangunan bendungan karet di Sungai Bremi dinilai mendesak, meski membutuhkan anggaran besar. Rencana serupa juga disiapkan untuk wilayah hilir Kabupaten Pati.
Namun, Taj Yasin menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pengendali banjir harus melalui dialog dengan masyarakat, khususnya nelayan di sekitar Sungai Juwana.
“Kalau dipasang tanggul karet, kapal nelayan bisa tidak masuk. Ini tidak boleh langsung dipasang begitu saja,” tegasnya.
Editor : A. Nandar
Sumber Berita: Humas Pemprov Jateng
Halaman : 1 2 Selanjutnya















